HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM OBAT DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA TUBERKULOSIS DI RUMAH SAKIT ISLAM SUKAPURA
Kata Kunci:
Tuberkulosis, Kepatuhan minum obat, Rumah Sakit Islam SukapuraAbstrak
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis sampai ini sulit diatasi antara lain oleh karena ketidakpatuhan penderita dalam meminum obat antituberkulosis (OAT). World Health Organization (WHO) menyatakan Sebanyak 1,3 juta orang meninggal karena TBC pada tahun 2022. Kepatuhan hal yang sangat penting dalam perilaku hidup sehat. Pengobatan akan efektif apabila pasien patuh dalam minum obat. Keteraturan berobat memiliki pengaruh yang baik dalam kualitas hidup. kualitas hidup yang baik pada penderita tuberkulosis dengan menjalani proses penyembuhan, yaitu dengan mengonsumsi obat secara teratur. Kualitas hidup pada pasien tuberkulosis penting untuk diperhatikan karena penyakit infeksi ini bersifat kronis sehingga berdampak luas pada segala aspek kehidupan baik fisik, psikologi, hubungan sosial maupun lingkungan. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara kepatuhan minum obat yang ditentukan dengan kuesioner ProMas dengan kualitas hidup penderita yang ditentukan dengan kuesioner WHOQO-BREF. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian non eksperimental yang bersifat observasional. Pendekatan penelitian dilakukan secara cross sectional dan WHOQOL-BREF disertai wawancara terhadap penderita tuberkolosis di Rumah Sakit Islam Sukapura selama bulan Mei 2024. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 70 responden dengan cara accidental sampling. Hasil berdasarkan kuesioner ProMas menunjukkan kepatuhan minum obat kategori tinggi sebanyak 45 responden (64,29%). Kualitas hidup pada pasien tuberkulosis dari 70 responden masuk dalam kategori baik sebanyak 36 responden (51,43%). Dari hasil uji spearman’s rho diperoleh bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup penderita tuberkulosis di Rumah Sakit Islam Sukapura dengan nilai p> 0,05.
Referensi
1. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Kemenkes. TBC. Available from:
https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1375/tbc
2. World Health Organization. WHO. TBC. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis
3. Kemenkes RI. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehat RI. 2018;53(9):1689–99.
4. Suci Risanti Rahmadania. Diperkirakan DKI Punya 14 Ribu Pengidap TBC yang tak terdeteksi. 2022; Available from: https://health.detik.com/berita- detikhealth/d-6052653/diperkirakan-dki-punya-14-ribu-pengidap-tbc-yang- tak-terdeteksi
5. Muflihatin1 SK, Milkhatun2, Hardianti3. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis di Wilayah Kerja PUSKESMAS Segiri Samarinda. Univ Muhammadiyah Kalimantan Timur. 2022;10(1):1–11.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Farmasi IKIFA

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.