HUBUNGAN PENGOBATAN POLIFARMASI DENGAN POTENSI KEJADIAN INTERAKSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KRAMAT JATI PERIODE OKTOBER – DESEMBER 2024
Kata Kunci:
Diabetes Melitus tipe 2, Polifarmasi, Interaksi Obat.Abstrak
WHO menyatakan bahwa diabetes melitus termasuk penyakit yang paling banyak diderita oleh orang di seluruh dunia termasuk indonesia. Pasien diabetes melitus memiliki penyakit penyerta yang merupakan komplikasi dari peningkatan kadar gula darah, menyebabkan terjadinya polifarmasi dan memicu kejadian interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengobatan polifarmasi dengan kejadian interaksi obat pada pasien diabetes melitus rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kramat jati. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional secara retrospektif, menggunakan rekam medis pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Kramat jati pada tanggal 20 Januari – 20 Maret 2024. Jenis interaksi dan tingkat keparahannya menggunakan drugs.com dengan hasil yang dianalisis menggunakan statistik uji chi square. Penelitian ini diperoleh hasil bahwa jenis kelamin perempuan yang memiliki angka kejadian lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki (57,4% vs 42,6%) yang terdapat pada usia 46-55 tahun (42,6%). Pada 94 pasien terjadi interaksi obat sebesar (98,8%) dengan tingkat keparahan moderat (82,5%) Hasil analisis uji chi square didapatkan nilai p=0,002 (p=<0,005). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara polifarmasi dengan potensi interaksi obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kramat Jati.
Referensi
1. Webber S. IDF Diabetes Atlas 10th Edition. International Diabetes Federation ; 2021.
2. Tandra H. Segala sesuatu yang anda harus anda ketahui tentang diabetes. Edisi 2. Jakarta PT. Gramedia; 2017, h 2-3.
3. WHO. International classification of diseases (ICD-11). Diakses 13 Januari 2025.
4. Kemenkes RI. Survei kesehatan Indonesia 2023. Jakarta Kemenkes RI; 2023, h 1-68.
5. Mashar HM, Ilyas M, Haryani R, Angganawati RT, Darsono IK, Suhaera, dkk. Buku interaksi obat. Purbalingga Eureka Media Aksara; 2023, h 10-15.
6. Mulyani Y, Balqis SS, Sutrisno E, Anggriani A. Analisis hubungan polifarmasi dengan potensi interaksi obat pada peresepan pasien diabetes melitus tipe-2. 2022; 290.
7. PERKENI. Pedoman dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia. Jakarta PB Perkeni; 2021, h 10.
8. Widiastuti E, Fathiyah R, Senorita A, Dranbenzus YG, Meirosandra A, Hayati W, dkk. Modul pelatihan pengelolaan diabetes melitus tipe 2 secara komprehensif bagi dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Jakarta; PT Gramedia; 2022, h 20-21.
9. American Diabetes Association (ADA). Standard of care in diabetes. the journal of clinical and applied research and education; 2023; 46 6–40.
10. PERKENI. Pedoman dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia. Jakarta PB Perkeni; 2021, h 14.
11. PERKENI. Pedoman pengolaan dan pencegahan prediabetes di Indonesia. Jakarta PB Perkeni; 2019, h. 17.
12. Fadillah A, Ramadhani J. Interaksi obat. Sumatera Barat Syofrianisda; 2024, h 3-9.
13. WHO. A global brief on Hypertension: silent killer, global public health crises; 2013. Diakses 6 Juni 2025.
14. Kemenkes RI . Kelompok Usia. Jakarta Kemenkes RI; 2009, h 1-68.
15. WHO. Medication safety in Polypharmacy. November 2019.
16. Delara M, Murray L, Jafari B , Bahji A, Goodarzi Z, Kirkham J, et.al. Prevalence and factors associated with polypharmacy: a systematic review and meta-analysis.
17. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 24 tahun 2022 tentang rekam medis. Jakarta Kemenkes RI;2022, h 1-19.
18. Drugs.Com. Drug Information and Interactions. Web. 21 Dec. 2024.
19. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2019 tentang klasifikasi dan perizinan rumah sakit. Jakarta Kemenkes RI; 2019, h 20-25.
20. Kartikasari D. Administrasi rumah sakit. Malang Wineka Media; 2019, h 9- 29.
21. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI. Jakarta; 2018.
22. Karyati S, Astuti P. Usia menopause dan kejadian diabetes melitus. JIKK.2016; 7(2): h.2
23. Nasution, F., Andilala, A., & Siregar, A. A. Faktor risiko kejadian diabetes mellitus. Jurnal Ilmu Kesehatan ; 2021, h 9.
24. Hidayah K., Kundarto W., & Farida Y., Identifikasi potensi interaksi obat pada peresepan obat pasien hipertensi dengan diabetes mellitus. Annual Pharmacy Conference ; 2018, h 114-117.
25. Damayanti WY, Yonata A, Kurniawaty E. Hipertensi pada diabetes mellitus: patofisiologi dan faktor risiko. Medula; 2023, h 1256.
26. Nafrialdi. Antihipertensi. Dalam: Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Instiaty. Editor. Farmakologi dan terapi. Edisi VI. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016.h. 345-65.
27. Ranjan SR. Anupam W. Naproxen-induced hyperkalemia a familiar surprise. Indian Journal of Rheumatology. 2021; 16(4):p 471-72. .
28. Anissa., Hubungan interaksi obat pada pasien geriatrik rawat inap di rumah sakit islam sultan agung semarang. 2021, h 53.
29. Prativi OD., Tanjung HR, Khairunisa. Potensi interaksi obat antidiabetes pada pasien rawat inap diabetes mellitus tipe 2 di RSUD DR. Pirngadi Medan. Pharmacology ; 2015, h. 42.
30. Amalia D. Kejadian interaksi obat hipertensi pada pasien diabetes melitus tipe 2 RSUD Dr. Moewardi : Surakarta. Journal of Public Health Research and Development; 2023; 9(2): h 7.
31. Kumar S, Jain S, Kuma S. Effects of Polypharmacy in elderly diabetic patients: Journal of Medical Science. 2022; 14(9): h 1–7.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Farmasi IKIFA

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.